Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2007

Dokter Lagi, Dokter Lagi 2

Membicarakan profesi kedokteran memang selalu menarik ya? Saya pernah baca bukunya Nawal, mengenai seorang imam agama yang korup. Bagus, karena dia berusaha mengangkat kajian gender. Tapi saya ada buku yang juga menarik mengenai kedokteran, yaitu 'becoming a doctor' karya Melvin Konner M.D. Mister Konner ini adalah pakar antropologi kesehatan. Dia sudah menjadi profesor dalam bidang itu, dan penelitiannya sudah banyak. Dia mempelajari pengobatan alternatif yang banyak terdapat di berbagai suku-suku terasing.
Namun, akhirnya dia mencapai suatu titik, bahwa melakukan perbandingan dengan pengobatan modern itu perlu. Akhirnya dia melakukan suatu hal yang radikal, yaitu belajar ilmu kedokteran. Buku 'becoming..' tersebut berisi pengalaman dia selama sekolah di fakultas kedokteran. Mulai dari pengalaman magangnya, interaksi dia dengan praktisi kesehatan, sampai curi-curi waktu supaya bisa ikut seminar mengenai antropologi (bolos dari RS).
Menarik melihat fakta, bahwa seorang guru besar antropologi masih mau sekolah lagi dari nol. Dokter biasa, mana mau belajar antropologi, misalnya?
Kalo berminat, saya resensi juga bukunya Mister Konner, tapi jadi utang banyak tulisan ya?? Tukang kredit nih gua....
Ya...saya tertarik untuk datang ke launching buku Merry, mudah-mudahan saja pas jadwal saya lagi kosong undangannya. Tapi santai aja lah

Sertifikasi 3

Merry, saya punya pengalaman menarik sewaktu studi banding ke China dulu. Di sana, pengobatan alternatif memiliki pengakuan formal yang sederajat dengan pengobatan modern. Bahkan mereka memiliki sekolah, institut, dan rumah sakit untuk pengobatan alternatif, yang semua sah menurut undang-undang. Menurut ketentuan di sana, setiap turis asing yang berkunjung ke China wajib untuk mengunjungi institut pengobatan alternatif. Bila tidak, maka izin tour guidenya dicabut Berbeda dengan di Indonesia, di sini keaneka ragaman budaya pengobatan kita digilas atas nama 'kedokteran modern'. Mestinya orang-orang IDI itu dikirim ke China dan belajar tentang pengobatan di sana
Tentu, sudah pasti saya mulai belajar masak sekarang....Itu pasti.
Soal behavior....Indonesia memang paling top munafiknya Mengklaim bangsa paling religius, tapi KKNnya juga paling top. Itu sebabnya saya tidak pernah bisa mengerti khotbah kebanyakan pemuka agama di TV Agamawan yang saya percaya jujur boleh dibilang hanya bisa dihitung dengan jari, terlepas agama mereka apa. Saya pikir masalah behavior ini justru kuncinya. Namun behavior yang ideal hanya bisa dicapai, jika generasi muda memiliki teladan. Jaman angkatan '45 dulu, generasi muda memiliki teladan Soekarno-Hatta dkk. Tokoh yang menjadi teladan itu sekarang yang kita langka
Kalo anti poligami...berarti harus anti poliandri juga donk Praktek poligami di Indonesia, kita jujur saja, hanya umum pada yang muslim. Namun jangan dipukul rata bahwa Islam itu pro poligami. Di Tunisia, mereka memiliki Undang-Undang anti poligami. Jadi siapapun yang berpoligami di Tunisia, 'hotel prodeo' hadiahnya. Sebagai negara Francophone, Tunisia menerapkan liberalisme Perancis dalam penyusunan perundangan tersebut. Saya sendiri berpendapat bahwa monogami adalah bentuk perkawinan yang ideal. Poligami dan poliandri, menurut hemat saya, hanya dipraktekkan pada masyarakat yang masih sederhana bentuk kehidupannya, misalnya pada masyarakat arab badui. Baru baca di koran (lupa koran apa), seorang Syeikh Arab badui membanggakan dirinya bahwa dia memiliki sekian puluh istri dan sekian ratus anak. Menurut saya, itu sama sekali bukan kebanggaan. Karena sibuk berpoligami itu, rasanya salah satu faktor bisa menjelaskan kenapa Negara2 arab selalu kalah perang dengan Israel . Orang Yahudi sekarang ini kan cenderung bermonogami. Tapi, walaupun Yahudi itu monogami, memiliki banyak anak sangat dianjurkan sih. Ini saya juga tidak setuju. Dunia akan penuh sesak kalau begitu caranya Lagi, menurut pendapat saya juga, bentuk perkawinan yang ideal menurut suatu masyarakat, akan sangat bergantung dengan kompleksitas budaya yang mereka miliki. Masyarakat urban dimana kita hidup sekarang, bentuk monogami merupakan yang paling ideal. Namun di pedesaan pun, poligami tidak akan menjadi pilihan praktis juga, karena hanya akan menambah beban ekonomi saja. Itulah yang tidak pernah dipikir oleh si Syeikh Arab itu. Dia sibuk menafkahi keluarganya yang besar bin gemuk, sementara Israel yang bermonogami memiliki uang lebih, yang dapat dimanfaatkan untuk membangun industri militer mereka. Saya mendukung penuh jika UU anti poligami (dan anti poliandri juga tentunya) diberlakukan di negara ini. Ini akan menjamin keadilan pada relasi gender

Tentang Tulisan dan Blog 5

Merry, sejak Pak Koes 'bergulat' dengan Pak Sofyan Djalil mengenai IGOS, saya sudah paham benar posisi Ristek ada dimana. Walaupun jelas sekali Pak Koes jauh lebih ngerti soal TI, tapi politik jauh lebih bermain. Ini seperti tikus melawan gajah :=). Kalau kita sih kembali ke khittah saja....Kan sudah ada netsains dan blog. Untuk menghadapi lawan yang lebih kuat kita perlu strategi 'perang gerilya'. Sistim yang membusuk hanya bisa dihancurkan dengan cara-cara revolusioner. Salah satunya ya bergerilya lewat blog dan netsains seperti yang kita lakukan selama ini. Awalnya Google itu apa sih? Kan cuma proyek iseng mahasiswa belaka. 10 tahun kemudian, Google sudah jadi raksasa bisnis, yang selalu membuat Microsoft meradang. TI telah terbukti mampu melakukan banyak revolusi di negara lain. Di Indonesia tunggu waktunya saja. Kalau 'perang gerilya' kita sukses, dengan postingan2 kita yang mencerahkan publik Indonesia, maka Indonesia akan berubah.
Pamflet 'common sense' milik Thomas Paine mampu membakar semangat publik Amerika Serikat, untuk memberontak melawan imperialisme Inggris. Akhirnya, Amerika merdeka dan sekarang menjadi penguasa dunia. Kita bisa melakukan hal yang sama. Just Believe...and we will have it.
Balik soal dokter, saya yakin Merry pernah membaca literatur mengenai Hinduisme. Dalam Hindu kan ada empat kasta, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Sama juga di rumah sakit, mereka punya sistim kasta. Menurut pengamatan saya, Kasta Brahmana itu Dokter, Ksatria itu Perawat, Waisya itu Apoteker, Sudra tentu saja pasien yang kaya dan menengah. Yang menyedihkan...rakyat miskin yang tidak punya apa-apa masuk kasta paria, yang dianggap 'bukan manusia'. Lucunya bahkan sistim kasta saja sudah tidak terlalu berpengaruh di Bali, ternyata di Rumah sakit masih berpengaruh.......

Tentang Tulisan dan Blog 4

Arli yg baik juga, soal arogansi dokter masuk akal juga ya. Mungkin
mereka merasa sebagai profesi yg paling dibutuhkan di muka bumi? He
he..teman saya juga ada yg jadi korban malpraktek RS Pondok Indah.Saya lihat
dokter mayoritas hanya kejar setoran. Dan kabarnya dari bisik2 teman
jurnalis yg ngepos di Depkes, korupsi di Depkes termasuk Big 5 di
Indonesia..
Kalau saya lihat Ristek di jajaran kementrian itu banyak dikalahkan
dalam lobi2 politik. Kebetulan saya pernah bantu Pak KK nulis buku, jadi
pernah tau banyak soal visinya yg bagus. Sayang semua visi itu menguap
saat akan diimplementasikan, sebab dikalahkan oleh kepentingan politik
parpol di kementrian lain. Betul,oleh Diknas saja Ristek kalah lobi2.
Seperti kita tahu Pak KK bukan orang parpol,jadi kurang dapat dukungan.
Di Ristek saja beliau dianggap terlalu heboh dgn gaya non birokratnya.
Pusing ya mikirin negara?So we could try to make a better Indonesia
with our own capabilities..Sure,we can do it!

Tentang Tulisan dan Blog 3

Merry yang baik

Saya minta tulisan saya mengenai hal Eijkman menjadi 'off the record'. Saya pikir wajar kalau Eijkman merasa superior, karena yang menjalankan lembaga itu adalah...dokter. Kok jadi menyalahkan dokter? Sebetulnya tidak ada yang salah dengan profesi kedokteran. Namun setiap orang yang pernah berurusan dengan dokter akan mengerti betapa susahnya berkomunikasi dengan mereka. Saya termasuk beruntung, karena selama saya bekerja sama dengan mereka, relatif tidak ada masalah yang berarti. Hubungan saya dengan para dokter relatif sangat baik. Tapi, teman saya ada yang sial. Dia dosen sebuah PTS. Ia ngambil S3 di biomedik FK-UI, di DO karena alasan sederhana....dia bukan seorang dokter. Di sana, hanya dokter yang bisa berprestasi baik. Non dokter silahkan gigit jari. Teman saya itu orang biologi, dan setiap kali bertemu dengan saya, selalu saja komplain mengenai " kezaliman para dokter". Komplainnya dia bahkan sudah membuat saya bosan :=). Percaya dengan saya, masalah utamanya bukan karena Eijkman itu dipegang asing. Kalo demikian, bukankah negara ini juga banyak menerima hibah dari asing? Contohnya pada kasus Tsunami di Aceh, asing semua yang bantu kan? Tapi kan pemda Aceh, bahkan pasca Mou Helsinki, tetap tunduk dengan pemerintah pusat. Walaupun GAM memiliki lobi internasional yang kuat, tidak sekonyong2 dia bisa melakukan gerakan bersenjata seperti dulu.
Kalo Merry pernah baca tentang kasus malpraktek yang bersliweran di media kita, rasanya sudah bisa dibayangkan kualitas dokter kita seperti apa. Saya tidak ada maksud mendiskreditkan Prof Sangkot dan dokter Hera, karena saya sangat menghormati mereka berdua. Mereka berdua termasuk peneliti yang memiliki idealisme tinggi. Namun dalam ilmu kedokteran, kan hanya dikenal dua jenis manusia. Yaitu Dokter dan pasien. Sudah bisa dibayangkan nasib pasien di Indonesia seperti apa.
Untuk berkomunikasi dengan dokter memang memerlukan trik yang sangat khusus. Salah satu triknya adalah kita harus mengerti tentang ilmu kedokteran juga (walaupun hanya teori). Bila kita bisa nyambung dengan mereka, karena menggunakan 'bahasa' yang sama, semua akan lancar. Memang ini tidak adil, namun ini fakta. Lucu kalo semua orang harus menguasai ilmu kedokteran, hanya untuk berkomunikasi dengan dokter. Soal arogansi dokter akan panjang membahasnya. Tapi kalau asing sudah diseret-seret, untuk masalah Eijkman ini kita mesti banyak belajar dari perdamaian antara GAM dan RI. Walaupun ada segudang kepentingan asing, akhirnya Aceh damai juga. Mestinya solusi serupa juga bisa diterapkan untuk mengatur lembaga Eijkman.
Mungkin kalo Ristek bisa melakukan pendekatan gaya 'perdamaian Aceh' ini, Eijkman akan mau lebih diatur. Konsep ini bisa juga tuh diusulkan ke Pak Koes :=).
Sekarang balik 'on the record' lagi. Solusi jangka pendek yang saya usulkan adalah Menristek harus memiliki kursi di MWA (majelis wali amanat) perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN). Kita tahu PT-BHMN ada 6, yaitu ITB, UGM, UI, IPB, USU, dan UPI. Sudah tak perlu dijelaskan lagi, bahwa peran ke6 PTN itu sangat strategis dalam menentukan pembangunan nasional. MWA adalah organ tertinggi dari suatu PT-BHMN. Anggota MWA adalah pimpinan Universitas, unsur masyarakat, karyawan, dan mahasiswa. Berdasarkan peraturan pemerintah mengenai PT-BHMN, Mendiknas adalah anggota MWA. Namun Menristek tidak. Ini konyol, karena adalah absurd membayangkan bahwa ristek tidak punya 'tangan' di PT BHMN. Sebenarnya, kalo presiden dan wapres mau intervensi, maka mau tidak mau Depdiknas harus terima bahwa Ristek punya hak suara di MWA. Saya sangat mendukung kalau Menristek menjadi anggota MWA, sama seperti Mendiknas. Namun lagi-lagi, solusi ini sangat politis dan menyinggung kepentingan parpol. Sudah jamak diketahui bahwa diknas adalah sapi perahan parpol atau kelompok tertentu, karena anggaran diknas yang sangat-sangat-sangat besar.