Bisakah dikatakan bahwa kemungkinan salah 1 faktor problem di Indonesia
adalah: technopreuner kita berlatar belakang ekonomi,bisnis,dan teknik
semata?Bidang2 itu melulu yg jadi fokus.Sementara sosial dan life
sciences dianggap cuma pelengkap.Jadi ada ketimpangan,dimana kebanyakan org
fokus pd target:ingin cepat sukses & kaya tanpa memikirkan apakah
prosesnya sehat bagi mental & jasmani.Akibatnya ya penyakit sosial yg kita
hadapi saat ini.Ironisnya,penderita terbanyaknya adalah rakyat kecil yg
jadi korban ketimpangan tadi. Wah sy kok sok pinter ya?Tapi itu hasil
pengamatan sehari2 juga lho.Pnyakit sosial ini melahirkan
kriminalitas,konflik SARA,dekadensi moral,dst.Itu kan yg kita hadapi sehari2?Tapi
kalangan elit berkutat dgn tender,proyek,lobi2 politik tak habis2 tanpa
pernah berpikir bagaimana penyakit sosial rakyatnya diobati.Rumahnya mau
direnovasi dulu sebelum ditempati.Gaji saya sbg jurnalis kecil,sy
banyak andalkan side job nulis & ngelola website
orang. Netsains?Masih proyek idealis..hehe
Tampilkan postingan dengan label Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riset. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 November 2007
Kemanusiaan dan Kedokteran 2
Kemanusiaan dan Kedokteran
Bisnis, tender, dan proyek itu menyenangkan lho kalo mau jujur
Namun...apakah itu bermanfaat untuk orang banyak, itu pertanyaan yang harus dijawab juga.
Bila itu cuma proyek mercu suar yang menguntungkan segelintir elite, tapi publik dilupakan, menurut saya itu proyek 'sampah'. Namun jika proyek itu bermanfaat untuk orang banyak, dari segala lapisan, that's ok. Itu sebabnya kami langsung terjun mengaplikasikan sains dasar kepada bidang kedokteran, dengan harapan semoga penelitian kami bisa bermanfaat bagi orang banyak. But it's long way to go...Untuk menuju paten, apalagi produksi masih sangat jauh...Bila sudah diproduksipun, bagaimana kita optimasi supaya harganya terjangkau, sehingga kalangan ekonomi sulit bisa membelinya.
Mungkin bukan perasaan Merry saja, itu juga perasaan saya. Kebanyakan pakar yang ahli dalam bidang hitung-menghitung akan terjerembab kepada utilitarianisme, that is, mengkalkulasikan hubungan personal berdasarkan kalkulus untung rugi. Simpelnya sikap 'kalo saya baik sama dia, untungnya buat saya apa?'. Dimata mereka, manusia itu tidak lebih dari sekedar variabel, angka, dan simbol statistik belaka. Berbeda dengan kami. Penelitian kami banyak bersentuhan dengan aspek etika kemanusiaan. Mengambil sampel dari pasien saja harus ada ethical clearance nya, dengan memberikan prior informed consent. Bila tidak melakukan ini, kami (baik peneliti dan dokternya) akan masuk 'hotel prodeo' tercinta di Cipinang.
. Inilah etika kedokteran yang dulu diformulasikan oleh Hipokrates. Pada artikel 'bioterorisme' yang lagi saya susun, nanti akan membahas pelanggaran sangat serius terhadap etika kedokteran, yang bisa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. 
Science Park nanti rencananya akan dibangun di Depok. Disitu akan menjadi inkubator riset dalam berbagai bidang ilmu. Untuk lengkapnya bisa dilihat di http://www.ui.edu/indonesia/menu_statis.php?id=f3&hal=f_science
Ok deh...Pokoknya selamat menikmati rumah baru...semoga seneng di sana. Sampe kirim CV segala, mungkin saja karena mereka melihat keterlibatan nama besar dalam netsains ini, seperti Pak Koes dan Kang Onno. Setelah melihat dua nama itu, otomatis mereka yang ngirim CV akan 'tergetar' (termasuk saya..he..he...he). Namun bisa juga karena artikel-artikel yang dimuat di netsains memang berkualitas. Saya lihat tanggapannya sendiri di 'add comments' selalu hangat.
Mungkin bukan perasaan Merry saja, itu juga perasaan saya. Kebanyakan pakar yang ahli dalam bidang hitung-menghitung akan terjerembab kepada utilitarianisme, that is, mengkalkulasikan hubungan personal berdasarkan kalkulus untung rugi. Simpelnya sikap 'kalo saya baik sama dia, untungnya buat saya apa?'. Dimata mereka, manusia itu tidak lebih dari sekedar variabel, angka, dan simbol statistik belaka. Berbeda dengan kami. Penelitian kami banyak bersentuhan dengan aspek etika kemanusiaan. Mengambil sampel dari pasien saja harus ada ethical clearance nya, dengan memberikan prior informed consent. Bila tidak melakukan ini, kami (baik peneliti dan dokternya) akan masuk 'hotel prodeo' tercinta di Cipinang.
Science Park nanti rencananya akan dibangun di Depok. Disitu akan menjadi inkubator riset dalam berbagai bidang ilmu. Untuk lengkapnya bisa dilihat di http://www.ui.edu/indonesia/menu_statis.php?id=f3&hal=f_science
Ok deh...Pokoknya selamat menikmati rumah baru...semoga seneng di sana. Sampe kirim CV segala, mungkin saja karena mereka melihat keterlibatan nama besar dalam netsains ini, seperti Pak Koes dan Kang Onno. Setelah melihat dua nama itu, otomatis mereka yang ngirim CV akan 'tergetar' (termasuk saya..he..he...he). Namun bisa juga karena artikel-artikel yang dimuat di netsains memang berkualitas. Saya lihat tanggapannya sendiri di 'add comments' selalu hangat.
Sertifikasi 3
Merry, saya punya pengalaman menarik sewaktu studi banding ke China dulu. Di sana, pengobatan alternatif memiliki pengakuan formal yang sederajat dengan pengobatan modern. Bahkan mereka memiliki sekolah, institut, dan rumah sakit untuk pengobatan alternatif, yang semua sah menurut undang-undang. Menurut ketentuan di sana, setiap turis asing yang berkunjung ke China wajib untuk mengunjungi institut pengobatan alternatif. Bila tidak, maka izin tour guidenya dicabut
Berbeda dengan di Indonesia, di sini keaneka ragaman budaya pengobatan kita digilas atas nama 'kedokteran modern'.
Mestinya orang-orang IDI itu dikirim ke China dan belajar tentang pengobatan di sana 
Tentu, sudah pasti saya mulai belajar masak sekarang....Itu pasti.
Soal behavior....Indonesia memang paling top munafiknya
Mengklaim bangsa paling religius, tapi KKNnya juga paling top. Itu sebabnya saya tidak pernah bisa mengerti khotbah kebanyakan pemuka agama di TV
Agamawan yang saya percaya jujur boleh dibilang hanya bisa dihitung dengan jari, terlepas agama mereka apa. Saya pikir masalah behavior ini justru kuncinya. Namun behavior yang ideal hanya bisa dicapai, jika generasi muda memiliki teladan. Jaman angkatan '45 dulu, generasi muda memiliki teladan Soekarno-Hatta dkk. Tokoh yang menjadi teladan itu sekarang yang kita langka 
Kalo anti poligami...berarti harus anti poliandri juga donk
Praktek poligami di Indonesia, kita jujur saja, hanya umum pada yang muslim. Namun jangan dipukul rata bahwa Islam itu pro poligami. Di Tunisia, mereka memiliki Undang-Undang anti poligami. Jadi siapapun yang berpoligami di Tunisia, 'hotel prodeo' hadiahnya.
Sebagai negara Francophone, Tunisia menerapkan liberalisme Perancis dalam penyusunan perundangan tersebut. Saya sendiri berpendapat bahwa monogami adalah bentuk perkawinan yang ideal. Poligami dan poliandri, menurut hemat saya, hanya dipraktekkan pada masyarakat yang masih sederhana bentuk kehidupannya, misalnya pada masyarakat arab badui. Baru baca di koran (lupa koran apa), seorang Syeikh Arab badui membanggakan dirinya bahwa dia memiliki sekian puluh istri dan sekian ratus anak. Menurut saya, itu sama sekali bukan kebanggaan. Karena sibuk berpoligami itu, rasanya salah satu faktor bisa menjelaskan kenapa Negara2 arab selalu kalah perang dengan Israel 
. Orang Yahudi sekarang ini kan cenderung bermonogami. Tapi, walaupun Yahudi itu monogami, memiliki banyak anak sangat dianjurkan sih. Ini saya juga tidak setuju. Dunia akan penuh sesak kalau begitu caranya
Lagi, menurut pendapat saya juga, bentuk perkawinan yang ideal menurut suatu masyarakat, akan sangat bergantung dengan kompleksitas budaya yang mereka miliki. Masyarakat urban dimana kita hidup sekarang, bentuk monogami merupakan yang paling ideal. Namun di pedesaan pun, poligami tidak akan menjadi pilihan praktis juga, karena hanya akan menambah beban ekonomi saja. Itulah yang tidak pernah dipikir oleh si Syeikh Arab itu. Dia sibuk menafkahi keluarganya yang besar bin gemuk, sementara Israel yang bermonogami memiliki uang lebih, yang dapat dimanfaatkan untuk membangun industri militer mereka.
Saya mendukung penuh jika UU anti poligami (dan anti poliandri juga tentunya) diberlakukan di negara ini. Ini akan menjamin keadilan pada relasi gender
Tentu, sudah pasti saya mulai belajar masak sekarang....Itu pasti.
Soal behavior....Indonesia memang paling top munafiknya
Kalo anti poligami...berarti harus anti poliandri juga donk
Tentang Tulisan dan Blog 12
Akhirnya, sampai juga dengan selamat di kantor.
Wah, Arli sedang meneliti apa ya sekarang? Kalau meneliti di kampus begitu, berarti dana penelitiannya ditanggung kampus ya? Ada limitnya kah? Atau harus rogoh kocek sendiri?
Kalau menurut Pak Terry Mart, dia kalau meneliti justru prakteknya dilakukan di LN (Jerman) oleh timnya di sana, sedangkan dia di sini melakukan riset teori saja sembari melakukan praktek ala kadarnya sesuai dengan ketersediaan fasilitas di sini.
Mustahil deh mengharapkan yang mudik ngga back to Jakarta, wong justru mereka balik ke sini bawa sodara yang ingin bekerja di sini. Hihihi..
Oh, Kleinstueber itu cuma nikcname ya? Waktu buka email kamu pertamakali, kirain ada bule nyasar..
Oh ya, soal profesi dokter itu kembali saya ungkit. Kalau peneliti biologi molekuler apakah harus seorang dokter? Kalau background-nya MIPA seperti kamu tetap bisa kan jadi peneliti bidang itu? Lantas kenapa Eijkmann isinya dokter melulu ya? Apa memang syaratnya begitu?
Waduh nanya melulu deh, kayak murid yang carmuk di kelas aja
.
Wah, Arli sedang meneliti apa ya sekarang? Kalau meneliti di kampus begitu, berarti dana penelitiannya ditanggung kampus ya? Ada limitnya kah? Atau harus rogoh kocek sendiri?
Kalau menurut Pak Terry Mart, dia kalau meneliti justru prakteknya dilakukan di LN (Jerman) oleh timnya di sana, sedangkan dia di sini melakukan riset teori saja sembari melakukan praktek ala kadarnya sesuai dengan ketersediaan fasilitas di sini.
Mustahil deh mengharapkan yang mudik ngga back to Jakarta, wong justru mereka balik ke sini bawa sodara yang ingin bekerja di sini. Hihihi..
Oh, Kleinstueber itu cuma nikcname ya? Waktu buka email kamu pertamakali, kirain ada bule nyasar..
Oh ya, soal profesi dokter itu kembali saya ungkit. Kalau peneliti biologi molekuler apakah harus seorang dokter? Kalau background-nya MIPA seperti kamu tetap bisa kan jadi peneliti bidang itu? Lantas kenapa Eijkmann isinya dokter melulu ya? Apa memang syaratnya begitu?
Waduh nanya melulu deh, kayak murid yang carmuk di kelas aja
Langganan:
Postingan (Atom)