Tampilkan postingan dengan label Netsains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netsains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2007

Networking..Networking 2

Nah...itu dia Mer. Hidup itu memang kudu penuh dinamika. Kalo saya liat profilnya mister Hoho, memang dia lebih muda dariku. Kalo Merry setahun lebih tua dari aku. So what gitu lho? Dreams are my reality, and will always be like that. Menurut pendapatku, yang membatasi impian dengan realita hanya satu, yaitu aksi. Bila kita bertindak sesuai dengan impian kita.....The world will be ours! Even..The world will not enough...
Namun perlu diingat, kalo bicara networking...suatu saat godaan untuk berpolitik pasti akan muncul. Di sini kita harus hati-hati, karena banyak ranjau di sana. Pak Habibie saja karier politiknya hancur hanya gara2 Timor Leste....Berpolitik itu sangat manusiawi, itu sebabnya industri politik kita sangat marak sekarang ini. Namun..enggak lah kalo sekarang ini berpolitik......Terlalu serius amet sih? Sekarang, kita bergerak di 'luar sistim' saja, seperti legenda Robin Hood atau film trilogi Matrix. Kalo prinsipnya Matrix, kita hidup seperti udara saja, tidak bisa dilihat, namun ada dimana-mana (Asik kali kalo aku bisa jadi kayak si Neo ya?).
Umur 35 tahun belum tahu tujuan hidupnya apa? Di satu sisi itu malah menguntungkan kita....Kalo mau, kita bisa 'memasukkan' konsep2 kita ke dia, dan jadilah kawan kita itu pengikut kita. Itu yang disebut cuci otak. Kalo sepanjang hidup si individu itu 'kosong' dan tidak punya konsep, maka orang lain yang akan mengindoktrinasi dia. Bukankah begitu bukan begitu bukan begitu bukan? (kayak Naek L Tobing nih).

Networking..Networking 1

Huayoooo Hoho sama Arli lagi pada ngerumpi apaan?
Kalau dua kimiawan bertemu, jangan-jangan menghasilkan zat kimia baru?

Begini lho Hoho, kalau dari diskusiku sama Arli tempo hari di email, kita sepakat bahwa bidang biologi & kimia itu lebih manusiawi dibanding ilmu lain.
Sebagai bukti, artikel kalian berdua punya nilai plus: lebih banyak dikomentari pembaca dibandingkan dengan artikel lain dari bidang fisika atau IT. Sebab objeknya adalah mahluk hidup.

Manusia itu cenderung menyukai topik tentang sesamanya. Maka itu acara infotainmen gosip artis sangat laku. Koran kuning ala Pos Kota, Berita Kota laku kenapa? Sebab objeknya adalah manusia: perampokan, perkosaan, pembunuhan dsb.
Nah, saya bukan bermaksud menjadikan Netsains seperti Pos Kota lho..hihihi. Tapi setidaknya saya ingin konten Netsains lebih manusiawi seperti belakangan ini. Bicara sains yang dikaitkan dengan keseharian, setidaknya meninggung hal human being.

Topik tentang komputer atau hal2 teknis tetap dipertahankan, namun tentu saja kita harus lebih sering menampilkan objek manusia.

Oh ya, awalnya saya ingin membuat milis khusus kontributor Netsains. Tapi sebelumnya saya juga sudah punya milis Technomedia yang sebagian kontributor Netsains juga sudah jadi membernya. Ternyata komunikasi yang terjalin kurang OK. Lebih didominasi mereka yang non kontributor.
Jika kita membuat milis khusus Netsains saja bagaimana? Maksudnya, topik pembicaraannya bisa lebih fokus ke konten Netsains.
Bagaimana menurut Hoho dan Arli?

Hmm, terus terang saja, dari sekian banyak kontributor Netsains, baru kalian berdua yang memberi respon sangat positif. Yang lain hanya sekadar mengirim tulisan saja. Eh, Pak KK alias Kusmayanto Kadiman juga bagus kok responnya. Namun kan beliau sudah sibuk dengan tugas negaranya. Jadi kita tak bisa berharap banyak.
Atau bisa jadi juga kontributor lain sudah agak "berumur", jadi sibuk dengan dunianya masing-masing? Hihihi.

Maka saya senang sekali jika Hoho & Arli punya banyak masukan, bahkan ikut aktif mengelola Netsains. Hanya ya maaf saja, seperti saya tekankan sejak awal, saat ini Netsains masih jadi proyek idealis. Jadi belum ada nilai komersilnya. Iklan yang berbayar baru Lintas Berita, itupun dengan harga pertemanan dan baru menutupi online. Hmm lainnya: Infolinux dan Langit Selatan adalah banner hasil barter link. Dan Multisolusi.com menyediakan hosting.
Jadi saat ini Netsains masih pure idealis. Tentu saja kita semua berharap kelak bisa go commercial kan? Hehehe.,

Okie dokie..ditunggu ya masukannya...Hujan di luar begitu derasnya. Petir menyambar bagaikan kemarahan sang empunya alam. Lho kok malah berpuisi?

Senin, 19 November 2007

Kemanusiaan dan Kedokteran

Bisnis, tender, dan proyek itu menyenangkan lho kalo mau jujur Namun...apakah itu bermanfaat untuk orang banyak, itu pertanyaan yang harus dijawab juga. Bila itu cuma proyek mercu suar yang menguntungkan segelintir elite, tapi publik dilupakan, menurut saya itu proyek 'sampah'. Namun jika proyek itu bermanfaat untuk orang banyak, dari segala lapisan, that's ok. Itu sebabnya kami langsung terjun mengaplikasikan sains dasar kepada bidang kedokteran, dengan harapan semoga penelitian kami bisa bermanfaat bagi orang banyak. But it's long way to go...Untuk menuju paten, apalagi produksi masih sangat jauh...Bila sudah diproduksipun, bagaimana kita optimasi supaya harganya terjangkau, sehingga kalangan ekonomi sulit bisa membelinya.
Mungkin bukan perasaan Merry saja, itu juga perasaan saya. Kebanyakan pakar yang ahli dalam bidang hitung-menghitung akan terjerembab kepada utilitarianisme, that is, mengkalkulasikan hubungan personal berdasarkan kalkulus untung rugi. Simpelnya sikap 'kalo saya baik sama dia, untungnya buat saya apa?'. Dimata mereka, manusia itu tidak lebih dari sekedar variabel, angka, dan simbol statistik belaka. Berbeda dengan kami. Penelitian kami banyak bersentuhan dengan aspek etika kemanusiaan. Mengambil sampel dari pasien saja harus ada ethical clearance nya, dengan memberikan prior informed consent. Bila tidak melakukan ini, kami (baik peneliti dan dokternya) akan masuk 'hotel prodeo' tercinta di Cipinang.. Inilah etika kedokteran yang dulu diformulasikan oleh Hipokrates. Pada artikel 'bioterorisme' yang lagi saya susun, nanti akan membahas pelanggaran sangat serius terhadap etika kedokteran, yang bisa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Science Park nanti rencananya akan dibangun di Depok. Disitu akan menjadi inkubator riset dalam berbagai bidang ilmu. Untuk lengkapnya bisa dilihat di http://www.ui.edu/indonesia/menu_statis.php?id=f3&hal=f_science
Ok deh...Pokoknya selamat menikmati rumah baru...semoga seneng di sana. Sampe kirim CV segala, mungkin saja karena mereka melihat keterlibatan nama besar dalam netsains ini, seperti Pak Koes dan Kang Onno. Setelah melihat dua nama itu, otomatis mereka yang ngirim CV akan 'tergetar' (termasuk saya..he..he...he). Namun bisa juga karena artikel-artikel yang dimuat di netsains memang berkualitas. Saya lihat tanggapannya sendiri di 'add comments' selalu hangat.

Budaya Timur 4

Kalo soal joke-joke beginian, Gus Dur itu yang paling jago Simak saja di http://www.gusdur.net/indonesia/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=77&Itemid=64

Humor-humor model demikian sudah menjadi klasik di pesantren.
Mengenai masalah 'pribumi' dan 'pendatang', itu kan lebih kental nuansa politisnya. Menurut ilmu biologi evolusi, pada dasarnya nenek moyang manusia (homo sapiens), berasal dari Afrika. Jadi kita semua adalah orang afrika (homo africanus) Secara biologi, perbedaan antara pribumi dan pendatang adalah tidak relevan.
Saya sebenarnya sangat berharap supaya ilmu sosial lebih bersuara dalam bidang ini. Namun, publik seperti tidak berpihak ke kita. Publik kita lebih tertarik dengan ceramah-ceramah motivasi dan self help, yang sebenarnya hanya bisa menyelesaikan masalah secara jangka pendek. Untuk yang lebih jangka panjang, diperlukan suatu renungan filosofis yang mendalam dan mendasar, untuk mencari akar permasalahan. Waduh juga...jadi ingin menulis artikel lebih banyak di Netsains. Saya lihat Merry udah nulis lebih dari 50 artikel. Saya tercambuk untuk menulis sebanyak itu juga nih...

Re: Sertifikasi

Horeee.. Netsains mulai membaik trafiknya. Komentar2 juga mulai ramai lagi. Selama libur lebaran kemarin trafik merosot drastis, sebab 80% user Internet Indonesia mengakses Internet dari kantor dan kampus. Jadi kalau liburan, ya sutra deh..pasrah dalam doa saja.
Eh baca deh komentar yang di artikel stem cell, ada yang nyeletuk “Links to Eliyana , saya koq tetap masih merasa seram meskipun sudah ada succes story book childrennya . Stigma dokter di Indonesia.. itu lho.., peniti bisa ketinggalan dalam perut ..hiyy! “ Haha!
Jadi kesimpulannya publik sudah ngga percaya lagi sama kompetensi dokter Indonesia. Maka jangan heran kalau praktek pengobatan alternatif laku keras juga. Bagus deh, demi mengurangi arogansi dokter juga. Setidaknya mereka malu kan kalau ada pasien yang mengaku bisa sembuh berkat berobat ke pakar pengobatan alternatif daripada ke dokter beneran.
Iya, kalau ke Jerman borong bumbu Indonesia itu wajib. Selain mengobati homesick juga mengirit. Biaya hidup di sana gila-gilaan, jadi kalau bisa masak sangat menolong lho. Nah, mulai belajar masak ya dari sekarang.
Soal sertifikasi yang diributkan di milis awalnya itu membahas soal tender pemerintah yang menysratkan gelar S3 kalau ngga salah, lantas berkembang meluas ke soal sertifikasi. Masalahnya, memang institusi di Indonesia ini lebih percaya pada selembar sertifikat daripada skill seseorang. Tapi pada akhirnya saya percaya dengan seleksi alam. Kredibilitas seseorang kelak lebih tergantung pada Skill, Knowledge dan Behaviour. Kalau untuk Skill dan Knowledge, banyak orang yang mampu. Namun behaviour itu yang kurang. Seide dengan tulisan di blog kamu yang mempertanyakan apakah tingkat intelektualitas seseorang menjamin moralnya. Pak KK kalau ngga salah pernah juga membahas itu di Netsains (Menembus Batas Nalar).
Mayoritas kini orang Indonesia mengejar skill dan knowledge, tapi melupakan behaviour. Duh, bisanya mengkritik, padahal saya sendiri juga behaviuornya jauh dari ideal.
Oh ya, soal Sayangi Indonesia, saya pernah buat kaosnya di http://sayangi-indonesia.blogspot.com dan dipakai di acara copy darat sama Pak KK di Ristek http://techno-media.blogspot.com. Someday pengen banget meng-kaos-kan tips Sayangi Indonesia. Hanya yang antipoligami itu dulu sempat kontroversi banget di milis

Sertifikasi

Semua ilmu sebenarnya bermula dan bermuara pada satu sumber, yaitu filsafat. Plato dan Aristoteles kan tidak pernah memisahkan antara ilmu eksak dan non eksak. Aristoteles misalnya, menulis buku tentang logika matematika, Ilmu biologi, ilmu retorik,dan ilmu politik. Pemisahan eksak vis a vis non eksak baru terjadi di abad ke 19, ketika ilmu2 positif memisahkan diri dari filsafat. Ini sudah dibahas di blog saya. Saya rindu pada masa-masa, ketika semua ilmu berada pada 'satu rumah'. Tapi ini tinggal impian belaka.....Paling tidak, walaupun hanya jadi kelompok minoritas, 'satu rumah' itulah yang saya perjuangkan. Semoga Netsains ini bisa menjadi 'satu rumah' yang saya impikan.
Ha...ha...ha, kalo ke eropa, nanti saya tumpuk sembako bumbu indonesia di apartemen saya. Memang demikianlah, faktor imperialisme Belanda berperan. Namun, mereka kan dididik untuk melayani kepentingan Belanda. Apa ini berarti, setelah Belanda pergi, mereka menggantikan posisi Belanda sebagai penjajah? Yah....bisa dilihat sendiri.
Soal sertifikasi.....jujur saja saya sudah mengikuti uraian macem-macem di milis teknomedia. Secara jujur saya tidak mengerti apa sih maunya? Sampai membandingkan profesi insinyur dengan dokter, menurut saya itu kebablasan. Profesi insinyur itu identik dengan kreatifitas, keterbukaan, dan progresif. Kalo disetarakan dengan dokter, saya berani jamin profesi insinyur akan ditinggalkan oleh publik. Tolong jangan bandingkan dokter dengan insinyur. Sampai sekarang saya masih sangat menghormati profesi insinyur. Kalo insinyur di'dokter'kan, mereka sedang menggali liang kubur mereka sendiri
Pembahasan sertifikasi sudah sangat hangat di dunia pendidikan, terutama ttg sertifikasi guru dan dosen. Ujung-ujungnya ke proyek lagi....
Lebih baik mereka di techmedia diingatkan, jangan samakan sertifikasi insinyur dengan dokter. Itu sangat-sangat berbeda dan sangat-sangat berbahaya. Bila waktunya kondusif akan saya beri tanggapan ke mereka secara langsung. Tapi saya lihat dulu.....

Tentang Tulisan dan Blog 7

Merry mon Chery

Rene Descartes dit"Je me panser, avec donc je suis". Mais, cette philosophie est tres passive. Une philosophie progressive est necessaire. Albert Camus est plus bon que Descartes, parce que Il a dit "Je me revolte, avec donc je suis". Revolte est une manifestation de progression. (Terjemahan: Rene Descartes berkata, aku berpikir maka aku ada. Namun falsafah demikian terlalu pasif. Diperlukan falsafat yang lebih progresif. Albert Camus lebih baik dari Descartes, karena dia berkata "Saya memberontak, maka saya ada". Pemberontakan adalah manifestasi dari sifat progresif). Sori bales pake bahasa Perancis, abis Merry pake bahasa itu juga sih....
Robin Williams? Favorit saya tuh.....Jumanji dan Awakenings kan klasiknya dia. Sama ada satu lagi, yang dia berperan jadi dokter juga. Tapi filmnya judulnya apa saya lupa. Tapi sekarang ada bintang baru yang juga sedang mencuat..Sascha Baron Cohen..!!!!. Saya baru saja nonton film "Borat"nya dia, sampai sekarang masih tertawa terpingkal-pingkal membayangkan lelucon dan satirnya.
Tentu saja Netsains akan saya support terus. Pemuatan tulisan2 saya mudah2an selalu mencerahkan siapapun yang membaca. Golkar? Ha...ha...ha . Parpol itu semua omong kosong. Untuk membuat suatu negara berjalan dengan baik, keberadaan parpol tidak mutlak. Ada beberapa negara yang bisa berjalan dengan baik, tanpa parpol. Contohnya Vatikan, Arab Saudi dan Iran. Pekerjaan Mahmud Ahmadinejad (Presiden Iran), sebelum menjadi presiden adalah...dosen. Dia itu bukan dari partai apapun. Sayangnya saya tidak ada hubungan keluarga dengan Gea. Parikesit itu bukan nama marga (Seperti Batak atau Arab), tapi nama yang diberikan orang tua saya, karena sewaktu bertugas di Timor Leste, nama pasukan bapak saya itu...ya pasukan parikesit.
Baiklah kalau begitu, saya tunggu pemuatan artikel saya selanjutnya. Selalu saya harapkan bahwa artikel2 saya menjadi sumber inspirasi bagi yang membacanya.
Terima kasih atas perhatiannya.

Tentang Tulisan dan Blog 1

Halo Merry

Terima kasih juga sudah masukin nama saya di milis teknomedia. Mudah2an bisa saling berkorespondensi dengan kolega yang lain. Terima kasih juga atas pujiannya terhadap blog saya. Sebenarnya isinya itu lebih banyak unek-unek, makanya saya tulis puisi segala macam.
Saya juga sudah baca blognya Merry. Pembahasan Merry mengenai Kajian Gender, menurut saya sangat menarik. Mendekonstruksi budaya patriaki memang sangat sukar, tapi itu mungkin untuk dilakukan. Saran saya mengapa tidak blognya Merry yang isinya banyak itu dibukukan, terutama yang mengenai Gender? Pasti akan mendapat tanggapan hangat.
Menjadi seperti newscientis, sciencedaily, atau livescience itu mengapa tidak? Bahkan kita harus meloncat lebih jauh lagi dengan memiliki saluran TV seperti National Geographic dan Discovery Channel. Anything is possible under the sun....
Mengenai honor itu sama sekali tidak saya permasalahkan. Tulisan yang saya kirim ke netsains adalah wujud idealisme saya. Saya akan tetap berusaha mengirim tulisan terus. Semoga saja Netsains bisa segera go commercial.
Seperti yang telah saya janjikan, tulisan lain sedang saya persiapkan. Saya sedang mempersiapkan artikel mengenai eugenika (Kajian mengenai peningkatan hereditas dari umat manusia, dengan pembuahan selektif). Artikel ini akan membongkar faham Darwinisme Sosial yang diusung oleh Nazi Jerman, semua dengan bahasa sains populer. Artikel ini sedang dalam persiapan akhir. Bila artikel saya mengenai kloning sudah dimuat, maka ia akan saya kirim. Setelah artikel eugenika itu, saya akan mempersiapkan artikel mengenai Bioterorisme (senjata biologis) dan mungkin tentang Euthanasia. Mudah-mudahan pemuatan artikel saya dapat mencerahkan banyak orang.