Hey Hey Arli..
Baru baca puisi kamu di FS, Nothingnes and Simplicity. Tau ngga sih, dulu aku sempat jadi penganut nihilisme. Mungkin akibat terpengaruh baca Franz Kafka sama Nietzsche waktu kuliah. Tapi sepertinya sudah mencapai antiklimaks dan sekarang sudah pada taraf tidak ingin mengikuti suatu aliran pun. Lebih membiarkan hidup mengalir seperti air. Mempercayakan semuanya pada Master of Universe, Si Pencipta Jagat Raya.
Ini aliran apa ya namanya? Aliran sungai? Hehehe..Jadi ingat ajaran The Secret atau Law of Attarction yang sedang heboh itu. pada dasarnya kan itu ajaran lama juga, hanya penulisnya pintar me-reminder orang agar selalu ingat berbuat hal baik. Dan akhirnya mereka menyerahkan semuanya pada setiap individu dan hukum alam.
Dulu, di awal jadi jurnalis IT, waktu mewawancara Kang Onno selalu gemes. Onno itu sering sekali bilang, "Serahkan saja pada yang Di Atas," itu jika ditanya soal cybercrime. Tapi kini setelah sekian lama tahu sepak terjangnya, memang paling indah adalah melakukan hal-hal baik sesuai keinginan kita, lantas menyerahkannya pada yang Di Atas. Itu berlaku untuk semua bidang pastinya.
Lantas bagaimana jika dikaitkan dengan Albert Camus? Sepertinya ada masa ketika seseorang ingin mengubah banyak hal secara drastis dengan cara memberontak. Ketika usaha pemberontakan frontal itu tidak berhasil seperti yang diharapkan, maka spirit pemberontakan itu sedikit redup. Bukan berarti mati. Dan akhirnya "pemberontakan" itu dijalankan secara lebih elegan.
Itulah yang dilakukan Onno sekarang ini. Ia tetap seorang Onno bersahaja, ngomong ceplas ceplos, namun tidak sekontroversi dulu lagi. Ia melakukan pemberontakan secara elegan. Saya pikir faktor usia mempengaruhi pola ini.
Saya belum setua Onno memang. Namun setidaknya sudah mulai memasuki tahap dimana pemberrontakan itu tidak dilakukan secara frontal.
Dan akhirnya saya setuju sama kalimat terakhir puisi itu: "Nature will take care of all our hustle. Harmony with the nature is the essence of all."
Senin, 19 November 2007
Sertifikasi 7
Betul sekali, Arli. Maka itu saya bilang bahwaa saya pesimis dgn dialog
nasional itu. Tapi saya hanya sekadar membantu saja. Semoga someday
ada manfatnya.
Sepertinya LSM2 & akademisi yg ada ttg isu lingkungan dan ekonomi
sebagai penggagas acara itu www.samdhana.org,Greenpeace,dsb sudah bingung
mau ambil tindakan bagaimana lagi. Aksi demo atau tulisan di media tak
pernah menjadi solusi. Jadi dibuatlah dialog tersebut.
Arli,saya tadi lihat di FS kamu review buku saya? Trims berat ya..hanya
saya ngga bisa baca semuanya sebaba sy ngga log in FS. Sy kehilangan
id log in FS sejak setahunan lalu..kalau bisa saya minta dikirim dong
reviewnya..agar bisa tahu kekurangan buku itu.
Trims berat ya sudah mau baca buku itu..hehe. Semoga berguna.
Sertifikasi 6
Maaf saja Merry, tapi kalo dialog nasional itu melibatkan wakil dari IMF, WTO, dan World Bank, akhirnya laporan dialog itu hanya akan mengisi lemari arsip mereka yang sudah berdebu
Antek-antek mereka ada dimana-mana, mulai dari parlemen, industri, perguruan tinggi, LSM, de el el. Kita harus lebih progresif lagi. Saya terkesan dengan Morales, presiden Bolivia, yang berani memaksa pemodal asing untuk menegosiasikan komposisi kepemilikan perusahaan migas mereka di sana. Rekomposisi itu untuk kepentingan rakyat Bolivia sendiri.
Demikian dengan Hugo Chavez, yang sukses dengan proyek 'land reform'nya. Tentu juga dengan Mahmud Ahmadinejad, yang berpendapat, bahwa 'mengembangkan nuklir untuk tujuan damai adalah hak segala bangsa'. Ini perlu kemauan politik dari pimpinan nasional kita. Melihat pimpinan negara kita seperti ini, yang disetir oleh WTO dkk, ya repotlah kalo kita berharap banyak. Tapi mudah-mudahan white paper kamu menginspirasikan generasi-generasi penerus, yang nanti akan memimpin bangsa ini di masa depan
Demikian dengan Hugo Chavez, yang sukses dengan proyek 'land reform'nya. Tentu juga dengan Mahmud Ahmadinejad, yang berpendapat, bahwa 'mengembangkan nuklir untuk tujuan damai adalah hak segala bangsa'. Ini perlu kemauan politik dari pimpinan nasional kita. Melihat pimpinan negara kita seperti ini, yang disetir oleh WTO dkk, ya repotlah kalo kita berharap banyak. Tapi mudah-mudahan white paper kamu menginspirasikan generasi-generasi penerus, yang nanti akan memimpin bangsa ini di masa depan
Sertifikasi 5
Arli, kebetulan saya sedang membantu teman nulis white paper untuk
dialog nasional ttg hutan Indonesia. Dari studi2 yg ada, semua masyarakat
Indonesia & negara berkembang lain yg hidup di dekat hutan punya
kesamaan : MISKIN. Padahal mereka hidup dekat hutan yg notabene adalah sumber
kekayaan alam. Ironisnya,mereka justru tak punya akses ke hutan,justru
sumberdaya hutan diklaim sbg milik negara & dikeruk oleh industri luar
maupun dlm negeri. Warga setempat dilarang mengakses sebab hutan ybs
ditetapkan sbg hutan lindung,taman nasional dsb. Dialog nasionalnya akan
diadakan November di DPR,melibatkan semua stakeholder. Saya pribadi
pesimis. Tapi dalam white paper itu juga kami singgung soal globalisasi yg
hanya menguntungkan negara maju & menyingkirkan rakyat lokal.
Globalisasi hanya menumbuhkan hutang2 baru yg bikin kita makin tak punya posisi
tawar.
Saya salut sama Sultan Hamengkabuwono yg antipoligami walau beliau
punya hak & kesempatan ke arah itu. Salut juga buat semua orang yg
antipoligami,termasuk kamu.
Sertifikasi 4
Merry, berbicara sedikit soal ekonomi. Semua itu terjadi karena ekonom kita sudah dicuci otak dengan ideologi neo liberalisme. Bila ada ekonom kita yang mengambil garis sosialis saja dikit, dia akan terlempar keluar sistim, dan paling hanya bisa jadi pengamat atau kritikus belaka. Ini terjadi di negara kita. Neo liberalisme mensyaratkan, agar kita mentaati mekanisme pasar secara penuh, dan intervensi pemerintah diminimalkan, bahkan dinihilkan. Lembaga keuangan dunia seperti WTO, World Bank, dan IMF mensyaratkan client mereka menggunakan pendekatan demikian. Akibatnya bisa dilihat. Sektor riil kita hancur lebur, sementara sektor finansial kuat. Ini seperti berjalan dengan satu kaki
.
Sektor finansial pun lebih banyak tergantung dengan modal asing. Selalu atas nama 'perdagangan bebas' dan 'globalisasi', negara2 client tiga institusi keuangan tersebut dipaksa untuk menjual BUMN nya ke luar negeri. Semua atas nama 'perdagangan bebas'. Sesungguhnya, semua ini kebohongan belaka. Di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, konsep neo liberalisme tidak pernah digunakan.
Mereka justru mengambil pendekatan ekonomi sosial demokrat. Ketiga negara tersebut memiliki industri manufaktur yang independen, pertanian yang kuat, dan finansial yang kuat dengan modal sendiri. Pemerintah mereka sangat memproteksi industri mereka, sementara kita dipaksa untuk meninggalkan proteksi, semua atas nama 'efisiensi'. Sekarang para negara donatur IMF, World Bank, dan WTO menerapkan ekonomi sosdem untuk diri mereka sendiri, kenapa kita harus menerapkan ekonomi neo liberal? Ini karena negara-negara maju tidak ingin memiliki pesaing yang berarti di perdagangan bebas ini. Mereka sudah sangat terkejut melihat perkembangan ekonomi China dan India yang sangat pesat, yang menjadi kompetitor mereka. Mereka tidak akan rela melihat Indonesia bisa semaju China dan India. Konyolnya mayoritas ekonom kita tidak melihat hal ini.
Soal poligami...Ok...Ok...Wanita hanya bisa mencintai satu laki, namun sebenarnya demikian juga sebaliknya.
Kondisi sosial budaya yang berbasis patriaki yang memaksa laki-laki mencintai lebih dari satu perempuan. Lebih tepat yang harus dilawan adalah patriaki. Bila poligami dihapuskan, tapi budaya patriaki masih ada, maka superioritas pria atas wanita akan terus terjadi dalam bentuk lain. Bila patriaki dihapuskan, maka poligami otomatis akan terhapuskan juga, seperti yang terjadi di Tunisia.
Sektor finansial pun lebih banyak tergantung dengan modal asing. Selalu atas nama 'perdagangan bebas' dan 'globalisasi', negara2 client tiga institusi keuangan tersebut dipaksa untuk menjual BUMN nya ke luar negeri. Semua atas nama 'perdagangan bebas'. Sesungguhnya, semua ini kebohongan belaka. Di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, konsep neo liberalisme tidak pernah digunakan.
Mereka justru mengambil pendekatan ekonomi sosial demokrat. Ketiga negara tersebut memiliki industri manufaktur yang independen, pertanian yang kuat, dan finansial yang kuat dengan modal sendiri. Pemerintah mereka sangat memproteksi industri mereka, sementara kita dipaksa untuk meninggalkan proteksi, semua atas nama 'efisiensi'. Sekarang para negara donatur IMF, World Bank, dan WTO menerapkan ekonomi sosdem untuk diri mereka sendiri, kenapa kita harus menerapkan ekonomi neo liberal? Ini karena negara-negara maju tidak ingin memiliki pesaing yang berarti di perdagangan bebas ini. Mereka sudah sangat terkejut melihat perkembangan ekonomi China dan India yang sangat pesat, yang menjadi kompetitor mereka. Mereka tidak akan rela melihat Indonesia bisa semaju China dan India. Konyolnya mayoritas ekonom kita tidak melihat hal ini.
Soal poligami...Ok...Ok...Wanita hanya bisa mencintai satu laki, namun sebenarnya demikian juga sebaliknya.
Sertifikasi 3
Merry, saya punya pengalaman menarik sewaktu studi banding ke China dulu. Di sana, pengobatan alternatif memiliki pengakuan formal yang sederajat dengan pengobatan modern. Bahkan mereka memiliki sekolah, institut, dan rumah sakit untuk pengobatan alternatif, yang semua sah menurut undang-undang. Menurut ketentuan di sana, setiap turis asing yang berkunjung ke China wajib untuk mengunjungi institut pengobatan alternatif. Bila tidak, maka izin tour guidenya dicabut
Berbeda dengan di Indonesia, di sini keaneka ragaman budaya pengobatan kita digilas atas nama 'kedokteran modern'.
Mestinya orang-orang IDI itu dikirim ke China dan belajar tentang pengobatan di sana 
Tentu, sudah pasti saya mulai belajar masak sekarang....Itu pasti.
Soal behavior....Indonesia memang paling top munafiknya
Mengklaim bangsa paling religius, tapi KKNnya juga paling top. Itu sebabnya saya tidak pernah bisa mengerti khotbah kebanyakan pemuka agama di TV
Agamawan yang saya percaya jujur boleh dibilang hanya bisa dihitung dengan jari, terlepas agama mereka apa. Saya pikir masalah behavior ini justru kuncinya. Namun behavior yang ideal hanya bisa dicapai, jika generasi muda memiliki teladan. Jaman angkatan '45 dulu, generasi muda memiliki teladan Soekarno-Hatta dkk. Tokoh yang menjadi teladan itu sekarang yang kita langka 
Kalo anti poligami...berarti harus anti poliandri juga donk
Praktek poligami di Indonesia, kita jujur saja, hanya umum pada yang muslim. Namun jangan dipukul rata bahwa Islam itu pro poligami. Di Tunisia, mereka memiliki Undang-Undang anti poligami. Jadi siapapun yang berpoligami di Tunisia, 'hotel prodeo' hadiahnya.
Sebagai negara Francophone, Tunisia menerapkan liberalisme Perancis dalam penyusunan perundangan tersebut. Saya sendiri berpendapat bahwa monogami adalah bentuk perkawinan yang ideal. Poligami dan poliandri, menurut hemat saya, hanya dipraktekkan pada masyarakat yang masih sederhana bentuk kehidupannya, misalnya pada masyarakat arab badui. Baru baca di koran (lupa koran apa), seorang Syeikh Arab badui membanggakan dirinya bahwa dia memiliki sekian puluh istri dan sekian ratus anak. Menurut saya, itu sama sekali bukan kebanggaan. Karena sibuk berpoligami itu, rasanya salah satu faktor bisa menjelaskan kenapa Negara2 arab selalu kalah perang dengan Israel 
. Orang Yahudi sekarang ini kan cenderung bermonogami. Tapi, walaupun Yahudi itu monogami, memiliki banyak anak sangat dianjurkan sih. Ini saya juga tidak setuju. Dunia akan penuh sesak kalau begitu caranya
Lagi, menurut pendapat saya juga, bentuk perkawinan yang ideal menurut suatu masyarakat, akan sangat bergantung dengan kompleksitas budaya yang mereka miliki. Masyarakat urban dimana kita hidup sekarang, bentuk monogami merupakan yang paling ideal. Namun di pedesaan pun, poligami tidak akan menjadi pilihan praktis juga, karena hanya akan menambah beban ekonomi saja. Itulah yang tidak pernah dipikir oleh si Syeikh Arab itu. Dia sibuk menafkahi keluarganya yang besar bin gemuk, sementara Israel yang bermonogami memiliki uang lebih, yang dapat dimanfaatkan untuk membangun industri militer mereka.
Saya mendukung penuh jika UU anti poligami (dan anti poliandri juga tentunya) diberlakukan di negara ini. Ini akan menjamin keadilan pada relasi gender
Tentu, sudah pasti saya mulai belajar masak sekarang....Itu pasti.
Soal behavior....Indonesia memang paling top munafiknya
Kalo anti poligami...berarti harus anti poliandri juga donk
Re: Sertifikasi
Horeee.. Netsains mulai membaik trafiknya. Komentar2 juga mulai ramai lagi. Selama libur lebaran kemarin trafik merosot drastis, sebab 80% user Internet Indonesia mengakses Internet dari kantor dan kampus. Jadi kalau liburan, ya sutra deh..pasrah dalam doa saja.
Eh baca deh komentar yang di artikel stem cell, ada yang nyeletuk “Links to Eliyana , saya koq tetap masih merasa seram meskipun sudah ada succes story book childrennya . Stigma dokter di Indonesia.. itu lho.., peniti bisa ketinggalan dalam perut ..hiyy! “ Haha!
Jadi kesimpulannya publik sudah ngga percaya lagi sama kompetensi dokter Indonesia. Maka jangan heran kalau praktek pengobatan alternatif laku keras juga. Bagus deh, demi mengurangi arogansi dokter juga. Setidaknya mereka malu kan kalau ada pasien yang mengaku bisa sembuh berkat berobat ke pakar pengobatan alternatif daripada ke dokter beneran.
Iya, kalau ke Jerman borong bumbu Indonesia itu wajib. Selain mengobati homesick juga mengirit. Biaya hidup di sana gila-gilaan, jadi kalau bisa masak sangat menolong lho. Nah, mulai belajar masak ya dari sekarang.
Soal sertifikasi yang diributkan di milis awalnya itu membahas soal tender pemerintah yang menysratkan gelar S3 kalau ngga salah, lantas berkembang meluas ke soal sertifikasi. Masalahnya, memang institusi di Indonesia ini lebih percaya pada selembar sertifikat daripada skill seseorang. Tapi pada akhirnya saya percaya dengan seleksi alam. Kredibilitas seseorang kelak lebih tergantung pada Skill, Knowledge dan Behaviour. Kalau untuk Skill dan Knowledge, banyak orang yang mampu. Namun behaviour itu yang kurang. Seide dengan tulisan di blog kamu yang mempertanyakan apakah tingkat intelektualitas seseorang menjamin moralnya. Pak KK kalau ngga salah pernah juga membahas itu di Netsains (Menembus Batas Nalar).
Mayoritas kini orang Indonesia mengejar skill dan knowledge, tapi melupakan behaviour. Duh, bisanya mengkritik, padahal saya sendiri juga behaviuornya jauh dari ideal.
Oh ya, soal Sayangi Indonesia, saya pernah buat kaosnya di http://sayangi-indonesia.blogspot.com dan dipakai di acara copy darat sama Pak KK di Ristek http://techno-media.blogspot.com. Someday pengen banget meng-kaos-kan tips Sayangi Indonesia. Hanya yang antipoligami itu dulu sempat kontroversi banget di milis 
Langganan:
Postingan (Atom)