Jumat, 18 Januari 2008

Memulai Berjalan Bersama

Setelah sekian "abad" berjalan sendiri, akhirnya saya temukan juga seseorang yang bisa diajak berjalan bersama. Saya memang bukan tipe orang yang senang dinasihatin, diceramahi. Apalagi oleh keluarga atau orangtua. Namun kali ini entah kenapa di telinga saya mendadak saya ceramah dan nasihat itu terdengar merdu.
Bukan keluarga memang. Tapi mereka sudah seperti keluarga bagi saya. Kebetulan juga mereka adalah orang-orang hebat di bidangnya.

"Soal beda agama itu harus dibahas sejak awal, Mer. Bukannya saya sok tahu atau apa. Tapi itu penting, daripada nyesal di kemudian hari," ujar seorang pakar IT yang terkenal dengan kumis lebatnya.

"Nikah saja di Denmark, di sana itu gampang banget prosedurnya, lebih gampang dari Jerman," celetuk karib yang jauh di benua seberang.

"Kudoakan langgeng ya Nduk, asal jangan grusa-grusu saja," ujar teman lain lagi.

"Yang penting kepercayaan, komitmen dan komunikasi," advis datang dari sahabat lainnya.

"Saya senantiasa berdoa untuk kebahagian Merry, Libby dan sekarang nambah lagi... Arli ! Semoga Tuhan melimpahkan kasih-Nya," ucapan selamat dari seorang sahabat yang sudah menjadi figur ayah saya sendiri.

"Wish all the best for the both of you," SMS dari seorang karib.

"Jangan mencintai orang terlalu dalam, sebab jika tak kesampaian akan sakit nantinya," nasihat lain lagi.

"Nikmati saja Mer, jangan mikir yang nggak-nggak," seorang teman mencoba mendamaikan hati saya yang agak paranoid.

Dan banyak sekali ucapan selamat, doa, harapan, advis, dari teman-teman yang sudah menjadi keluarga besar saya.

Terlalu lama berjalan sendiri, lantas kini berjalan berdua, memang tidak mudah. Ada banyak hal harus disesuaikan, dipadupadankan. Tapi sejak awal kami memang sudah merasa sepadan dan sepemikiran.
Terlalu cepat untuk bicara soal masa depan? Tidak juga, sebab kami bukan ABG atau mereka yang membina hubungan berdasar "lihat saja nanti". Kami memang baru resmi jadian belum ada sebulan, namun sesungguhnya usaha saling mengeksplorasi apa yang ada di benak pemikiran kami sudah terjadi lama sebelum itu.

1 komentar:

moccantosh mengatakan...

Pagi mba merry,

Saya juga ada saran nih. Mengenai nyari jodoh, saya merekomendasikan mencari yang seiman, yang percaya sama DAD. Soalnya, orang sebaik, sepinter, seganteng, seprofessional, se..apapun lah, kalo ga kenal sama DAD, sama dengan 0. Jadi carilah jodoh yang dewasa dalam Tuhan. Kalo misalnya mbak Merry bisa bawa mas Arli untuk percaya sama DAD, itu bakal lebih baik lagi. Intim sesama itu harus, tapi intim dengan DAD itu paling diharuskan. Saran doang lho mba...ngga maksain saya :D :D