Kamis, 13 Maret 2008

Try Out : Long Distance Relationship (LDR)

Banyak orang menyangsikan Long Distance Relationship (LDR). Seorang teman yang sudah melakukan survei kecil-kecilan mengatakan pasangan yang jalani LDR dan sukses sampai ke jenjang pernikahan, tidak sampai 50%. Dia sendiri sudah menjalani LDR dan pernah gagal, pernah pula sukses.

Kami adalah pasangan yang "terancam" menjalani LDR, sebab Juni nanti Arli akan berangkat ke Hannover, Jerman, untuk rampungkan S3 yang sudah jadi cita-citanya sejak lama. Apakah kami gentar? Tidak sama sekali. Bahkan sekarang kami tengah melakukan semacam try out LDR dengan mengurangi frekuensi pertemuan.

Mulai pekan ini saya akan lebih sering berkutat dengan pekerjaan di kantor anyar. Arli juga mengikuti les intensif di Goethe Institute. Jadi kami tak lagi bisa seenak udelnya lunch bersama setiap saat sekedar chit chat melepas kangen. Jadilah ini latihan LDR kami.

Komunikasi kami tetap baik, bisa lewat SMS, telpon, email dan Yahoo Messenger. Hanya memang tak bisa melebihi kepuasan sebuah pertemuan langsung. Namun selama kami saling tahu apa yang terjadi pada diri satu sama lain, agaknya tak ada masalah. Justru saat bertemu setelah sekian lama tak jumpa akan lebih heboh dengan beragam sharing pengalaman dan curhat.

Blog ini pun sebenarnya kami persiapkan untuk kelak menjadi media saat kami betul-betul menjalani LDR. Hmm masa latihan ini lumayan juga mengaduk-aduk emosi. Kangen, lelah, ingin berbagi rasa tapi agak susah. Untung ada blog ini. Saya rasa kelelahan mental saya sejak awal pekan ini bisa sedikit reda setelah menulis blog ini. Tanpa sadar, saya sudah menjadi salah satu orang yang blog addict!

Jadi, teman-teman yang menjalani LDR bisa mencoba menggunakan blog sebagai terapi mental. Hahaha!

3 komentar:

thea mengatakan...

aku laha dah lama ga upload blogku berdua ma ogi. Tapi bener kok, ngeblog bareng ma pasangan memang terapi yg bagus. Khususnya buat LDR kayak kite2 Mbak Mer:). sukses terus buat kalian berdua yaaa

Wondering Bioinformatician mengatakan...

Ada informasi yang 'agak' mengerikan datang dari teman. Jika kita menikah, di buku nikah dari KUA ditulis 'jika istri tidak diberi nafkah lahir batin selama 6 bulan, maka pernikahan dianggap batal'. Hehehe..Teganya-teganya-teganya :(. Anggap skenarionya aku sudah menikah, resikonya besar sekali kalo peraturannya seperti itu. Mana mungkin aku dapat memastikan bisa pulang setiap semester, allowance dari DAAD sangat terbatas :(. Dan DAAD pun tidak kalah 'kejam bin sadis' dengan penerima beasiswa yang membawa pasangan ke jerman. Selain penerima beasiswa, pasangannya WAJIB menguasai bahasa Jerman. Tunjangan untuk pasangan baru diberikan jika pasangan penerima beasiswa sudah lulus ujian A1. Peraturan ini berlaku sejak Agustus 2007, dan dikeluarkan karena imigrasi Jerman sudah mulai sebal dengan pelanggaran keimigrasian. Mereka juga mulai mengeluhkan situasi Jerman, yang sudah 'Kurang Jerman', karena banyak pendatang yang menggunaan bahasa negara asalnya. Di kuping orang Jerman, bahasa asing itu terasa pedas sekali...kecuali bahasa Inggris, karena itu bahasa internasional. Namun sekarang disana banyak imigran dari eropa timur, yang tidak bisa bahasa Inggris apalagi bahasa Jerman. Inilah problemnya, dan orang Indo yang Inggrisnya baguspun jadi kena 'sapu' peraturan 'Germanisasi' ini :(. Teman-teman saya sesama penerima beasiswa DAAD yang sudah merit mulai panik dengan peraturan ini, karena istri/suami mereka sama sekali tidak siap dengan kemampuan bahasa jerman. Sebetulnya, karena saya sudah hampir setahun ini belajar bahasa Jerman, untuk ujian A1 itu masih sangat dasar dan seharusnya siapa pun bisa menguasainya. Namun memang sukar buat pasutri yang salah satunya memang motivasinya sudah bukan belajar lagi, misalnya sudah ngurus anak, kerja, dll...tau-tau dipaksa belajar Bahasa Jerman. Namun menurut saya peraturan ini wajar sih, karena tentu saja pihak Jerman menginginkan siapapun yang tinggal dalam waktu lama di sana untuk menguasai bahasa dan budaya setempat. Sama juga dengan kita disini, tentu kita mengharapkan orang asing yang tinggal disini untuk menguasai bahasa dan budaya kita sendiri.
Emang...inilah konsekuensi belajar di negeri orang yang menganggap dirinya 'Uber alles' (diatas segala-galanya) hehehe.
Awalnya memang kami berpikir, kalo kita menikah, langsung bisa kesana dengan tunjangan. Namun...Peraturan itu sudah tidak berlaku lagi. Imigrasi mereka sudah mulai 'menancapkan' kuku 'Jermanisasi'nya. Namun aku kok percaya dalam setahun kedepan Merry pasti bisa menguasai bahasa Jerman. Karena untuk yang latar belakangnya ilmu sosial, belajar bahasa itu relatif lebih mudah. Ditambah lagi Goethe menyediakan kursus online yang hanya tatap muka sebulan sekali dan lebih banyak tugas. onlinenya. Belajar bahasa jadi lebih mudah dan fleksibel karena banyak mode untuk belajar. Lagipula...Belajar Bahasa selalu lebih menyenangkan daripada belajar matematika =)) =)) =)) =))

ilma mengatakan...

to Arli: wah serem juga ya peraturan buat pasangan penerima beasiswa Jerman..tapi kalo Mbak Merry jadi bisa 1 bahasa lagi, yaitu: Jerman.. wah keren banget dong :))

Sukses yah buat studi, relationship n semuanya...:)